Di Sudut Stasiun Jatinegara
Kaki melangkah mengejar,
pagi ini cukup mengkhawatirkan.
Sambil pikiran lumayan berantakan.
Kereta tiba depanku.
Tiba-tiba pikiran berpusat memikirkan "Uni,"
Uni, aku harap kamu semoga hari ini bahagia.
Aku cukup mengerti rasanya,
Uni adalah gambaranku beberapa tahun silam.
Tetapi aku berhasil sembuh, walaupun berbekas.
Seperti terjebak dalam perasaan lebam yang perih.
Tetapi Uni adalah versi lebih mengerikan.
Bukan berarti mengadu nasib, bukan.
Aku hanya cerminan "uni" saat itu,
terjebak belasan tahun dalam perasaan amarah dan luka.
Uni, sudah membenciku juga.
Bagaimana tidak?
Aku menggalkan rencana gilanya, tak mengapa.
Aku pikir itu rencana berujung sebuah malapetaka,
maka, biarkan aku gagalkan.
Aku tidak mau Uni terlalu jauh memanifestasikan rasa kusumatnya.
Aku tahu cara itu hanya jalan buntu dan hanya untuk penenang sementara.
Aku tak ingin jadi kambing hitam dan semua akan berakhir lebih buruk.
Uni, satu hal.
Uni, kamu benciku tak apa, tetapi..
Pulang ya suatu saat kalau kamu sudah reda.
Aku tak pernah memvonis keputusanmu bersamanya.
Aku percaya, dia akan jadi pelabuhanmu.
Dia akan menemanimu setiap episode hidupmu.
Aku lihat dia manusia cerminan Ayah.
Jadi, ku sangat lega.
Uni, tolong andai suatu saat kau baca ini,
aku sangat tulus untukmu dari kita sama-sama bertumbuh dari semungil itu.
Semoga kamu lekas sembuh ya,
berlari kemanapun ya,
jika nangis, luapkan saja.
Kamu jangan sampai berpikir menyerah ya, Uni.
Uni, aku tahu cara-nya membersarkan kita salah.
Memang itu sangat ku akui, seperti cetakan asli dari induknya.
Tetapi, ingatlah keringatnya selama ini lah yang membuatmu saat ini,
kau tumbuh jadi manusia hebat.
Uni, hidup kita tak bisa meminta untuk selalu diberikan hal manis oleh semesta.
Aku harap suatu saat kamu bisa berdamai dengan semua episode hidup.
Semoga roh kudus dapat membantumu,
membantumu untuk sembuh.
Salam hangat dari ku.
Komentar
Posting Komentar